Ternyata sebegitu mudahnya aku membuang kenangan darinya. Ku kira aku akan sangat mempertahankan apapun darinya.
Memang sudah luntur, waktu sangat berperan penting ternyata.
Dulu, bahkan bayangannyapun membuatku salah tingkah. Serasa kehilangan akal sehat. Kemanapun berlari seakan selalu ada dia. Dia seolah “start” dan “finish”ku. Dulu, aku begitu menggagungkan perasaanku itu, mengistimewakan hadirnya di setiap waktu bersama.kata orang jauh dimata dekat di hati, begitulah pikiranku selalu berpaut padanya. Serasa tak hidup bila tanpanya. uuughhhh
Sekarang,aku bahkan merindukan perasaanku yang seperti dulu terhadapnya. Tak ada lagikah yang tersisa? Tanpanya aku sendiri. Kehadirannya seperti tak ada. Disampingnya hanya fisikku, pikiranku entah kemana. Dia sudah jadi sesuatu yang biasa, tak lagi istimewa. Tapi aku menghormatinya, aku pernah begitu menyukainya. Terlebih, aku sangat menghormati perasaanku dulu terhadapnya.
Walaupun dia kini adalah seseorang yang biasa, tapi tetap kehadirannya takkan sia-sia. Tuhan mungkin bukan mengirimnya untukku, tapi untuk bidadari lain di luar sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar