sejak 16 november 2011
tak ada niat apapun, hanya belajar mengungkapan perasaan dengan cara yang lebih baik.
Jumat, 09 Maret 2012
Agak naratif ya?
Pagi ini kukirimkan sebagian buku dan kertas-kertasku. Ada empat kotak seluruhnya, bukan karena kuliahku selesai, belum, hanya saja itu sudah terlalu menumpuk dan merepotkan. Aku akan pindah kos, kau tau kan kenapa tadi kubilang merepotkan? Lagipula buku-buku dan kertas-kertas penting masih ku simpan disini bersamaku, hanya yang tidak terpakai lagi yang kukirim pulang.
Sore ini ada rapat lanjutan MABICA,Masa Bimbingan Calon Anggota. Tak banyak yang hadir, hanya sekitar 20 orang termasuk aku. Rapat berjalan seperti biasa, kecuali aku dan pikiranku yang diburu waktu untuk pulang secepatnya. Hujan . Tak ada lagi orang di kost, dan orang tua menyuruhku pulang hari ini juga. Maka, segera setelah rapat selesai dan hujan reda kumantapkan hati untuk pulang. Ini sudah jam 6 sore pikirku.
Jalanan banjarmasin cukup padat bila sore seperti ini, semua orang bergegas untuk tiba di tujuan masing-masing secepatnya. Dan dengan hati-hati kupacu kuda hitamku di tengah aspal yang licin. Tiba-tiba, bruggggghhhhhhhh!!!
Sebuah gerobak pentol yang menghindari lubang tiba-tiba menyerudukku dari samping belakang. Mungkin dia terlalu memperhatikan rodanya hingga tak melihat aku yang sedang melaju dengan tenang. Hanya sedikit menyenggol jok belakangku tapi cukup membuat gerobaknya terjungkal dan roboh. Aku yang kaget mencoba menengok ke belakang, segera kuputar stang dan kutepikan kuda hitamku. Aku bingung apa yang harus kulakukan, aku terdiam dan kemudian coba membantunya. Kulihat dagangannya tumpah ruah di atas aspal, panci dan termospun entah kemana, arang dan pecahan kaca membaur. Sebegitu parahnya kah?
Aku yang kaget dan merasa bersalah ini mencoba berbicara padanya, tapi dia diam. Mungkin dia sama kagetnya sepertiku. Aku mulai menguasai keadaan, bersama dengan beberapa orang kami mulai merincikan kejadian tadi, kata mereka jelas aku tak bersalah.
Tapi aku tetap merasa bersalah, ku ulurkan tanganku untuk meminta ma’af padanya. Kusertakan sebagian uang saku yang kudapat minggu ini untuknya. Mungkin dia membutuhkannya untuk mengganti kerugianya karena kejadian tadi. Aku juga membutuhkan uang sakuku, tapi tak apa...aku masih punya sedikit.
Toh,minggu depan aku dapat lagi.
Dia menerimanya dengan gugup. Ahh, dia masih muda. Kasian. Apa masih sekolah?
Hampir 06.30, kembali kupacu kuda hitamku. Aku harus pulang. Sebentar lagi maghrib.
Setiba di ferry penyeberangan aku masih harus menunggu sekitar 20 menit an. Sampai di seberang, malam sudah begitu pekat dan dalam. Dan di ferry tadi aku satu-satunya pengendara perempuan. Oh bumi, telanlah daku...
Perjalanan di tengah gelap dan jalanan yang terjal masih harus ku tempuh. Jalan yang kulalui sepi sekali, tak ada satupun rumah penduduk. Siang hari saja sudah begitu mencekam apalagi malam, mengerikan. Sialnya, aku tak sengaja menyadari bahwa bensinku tengah sekarat. Sudah melebihi batas merah! Mungkin hanya tersisa tiga sendok bensin di tangkiku. Lalu dalam hati aku berjanji, bensin pertama yang kutemui akan langkung kubeli dua liter sekaligus. Naasnya, masih beberapa kilometer lagi baru ada rumah penduduk. Aku tak biasanya takut, tapi kali ini aku sungguh takut.
Dengan hati was-was kukencangkan gas motorku untuk beberapa saat kemudian kubiarkan melaju, terus berulang-ulang. Hingga kutemukan warung yang jual bensin, langsung kubelikan 2 liter dengan sisa uang yang masih ada. Akupun melanjutkan perjalanan dengan bahagia.
Beberapa menit kemudian aku menginjakkan kaki di rumah, aku pulaaaang!
Aku merasa bahagia, lega, kesal, aneh. Aku diam. Kepada orangtua tak kuceritakan tentang gerobak pentol, uang saku, jalanan yang mengerikan, dan bensin. Kuambil wudhu dan segera kutunaikan sholatku yang tertunda, aku berterimakasih pada tuhan. Aku mensyukuri apa adanya aku sekarang..
setelah sekian lama, ternyata cuma sekian...
Ternyata sebegitu mudahnya aku membuang kenangan darinya. Ku kira aku akan sangat mempertahankan apapun darinya.
Memang sudah luntur, waktu sangat berperan penting ternyata.
Dulu, bahkan bayangannyapun membuatku salah tingkah. Serasa kehilangan akal sehat. Kemanapun berlari seakan selalu ada dia. Dia seolah “start” dan “finish”ku. Dulu, aku begitu menggagungkan perasaanku itu, mengistimewakan hadirnya di setiap waktu bersama.kata orang jauh dimata dekat di hati, begitulah pikiranku selalu berpaut padanya. Serasa tak hidup bila tanpanya. uuughhhh
Sekarang,aku bahkan merindukan perasaanku yang seperti dulu terhadapnya. Tak ada lagikah yang tersisa? Tanpanya aku sendiri. Kehadirannya seperti tak ada. Disampingnya hanya fisikku, pikiranku entah kemana. Dia sudah jadi sesuatu yang biasa, tak lagi istimewa. Tapi aku menghormatinya, aku pernah begitu menyukainya. Terlebih, aku sangat menghormati perasaanku dulu terhadapnya.
Walaupun dia kini adalah seseorang yang biasa, tapi tetap kehadirannya takkan sia-sia. Tuhan mungkin bukan mengirimnya untukku, tapi untuk bidadari lain di luar sana.
Langganan:
Postingan (Atom)